Pages

Rabu, 20 April 2011

askep rinitis

ASKEP DENGAN GANGGUAN RHINITIS
1. Pengertian
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnnya sudah tersensitasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut (Von Pirquet, 1986)
2. Gejala klinik
- Serangan timbul bila terjadi kontak dengan alergen penyebab.
- Didahului rasa gatal pada hidung,mata,atau kadang-kadang palatum mole.
- Bersin-bersin paroksismal,pilek encer dan buntu hidung.
- Gangguan pembau, mata sembab dan berair ,kadang-kadang disertai sakit kepala
- Mungkin ada manifestasi alergi pada orang lain
- Tidak ada tnda-tanda infeksi (misalnya panas badan )
- Mungkin ada riwayat alergi pada keluarga.
3. Klasifikasi Rinitis Alergi
Dahulu rinitis alergi dibedakan dalam 2 macam bedasarkan sifat berlangsung,yaitu :
1. Rinitis alergi musiman di Indonesia tidak dikenal rinitis alergi musiman,hanya ada dinegara yang mempunyai 4 musim. Alergen penyebabnya spesifik , yaitu tepungsari (pollen) dan spora jamur. Oleh karena itu nama yang tepat ialah polinosis atau rino konjungtivitis karena gejala klinik tampak ialah gejala pada hidung dan mata (mata merah,gatal disertai lakrimasi).
2. Rhinitis alergi sepanjang tahun gejala pada penyakit ini timbul intermitan atau terus-menerus,tanpa variasi musim,jadi dapat ditemukan sepanjang tahun. Penyebab yang paling sering ialah allergen ingestan. Allergen inhalen utama adalah allergen dalam rumah (indoor). Allergen diluar rumah (outdoor). Allergen ingestan sering merupakan penyebab pada anak-anak dan biasaanya disertai dengan gejala alergi yang lain ,seperti urtikaria, gangguan pencernaan. Gangguan fisiologik pada golongan musiman tetapi karena lebih persisten maka komplikasinnya lebih sering ditemukan.
4. Penatalaksaan
1. Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan allergen penyebabnya (avoidance) dan eliminasi.

2. Medikamentosa
Antihistamin yag dipakai adalah antagonis histamine H-1, yang bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target, dan merupakan preparat farmakologik yang paling sering dipakai sebagai lini pertama pengobatan rhinitis alergi. Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral.
Antihistamin dibagi menjadi 2 golongan yaitu golongan antihistamin generasi-1 (klasik) dengan generasi-2 (non sedatif). Antihistamin generasi-1 bersifat lipofilik , sehingga dapat menembus sawar darah otak (mempunyai efek pada SPP) dan plasenta serta mempunyai efek kolinergik. Yang termasuk kelompok ini antara lain adalah defenhidramin, kloefeniramin, prometasin, siproheptadin sedangkan yang dapat diberikan secara topical adalah azelastin. Antihistamin generasi-2 bersifat lipobotik,sehingga sulit menembus sawar darah otak. Bersifat selektif mengikat reseptor H-1 perifer dan tidak mempunyai efek antikolinergik, antiadrenergik dan efek pada SSP minimal (non-sedatif). Antihistamin diabsorspsi secara oral dengan cepat dan mudah serta efektif untuk mengatasi gejala pada respons fase cepat seperti rinore,bersin,gatal, tetapi tidak efektif untuk mengatasi gejala obstruksi hidung pada fase lambat. Antihistamin non sedative dapat dibagi menjadi 2 golongan menurut keamanannya . kelompaok pertama adalah astemosol dan terfinadin yang mempunyai efek kardiotoksik. Toksisitas terhadap jantung tersebut disebahkan repolasisasi jantung yang tertunda dan dapat menyebabkan aripmia pentrikel,henti jantung dan bahkan hkematian mendadak (sudah ditarik dari peredaran). Kelompok kedua adalah loratadin, setirisin, fexovenadin, desloratadin, ddan levosetirisin.
Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergic alfa dipakai sebagai dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi dengan anti histamine atau topical. Namun pemakaiansecara topical hanya boleh untuk beberapa hari saja untuk menghindari terjadinya rhinitis medikaentosa.
Preparat kartikosteroit dipilih bila gejala terutama sembatan hidung akibat respons fase lambat tidak berhasil diatasi dengan obat lain. Yang sering dipakai adalah kartikosteroit topical (beklometason,budesonid,flunisolid,flutikason,monetason furoat dan triam sinolon). Kartikosteroit topical bekerja untuk mengurangi jumlah sel mastosit pada mukosa hidung, mencegah pengeluaran protein sitotoksik dari eosinifil,mengurangi aktifitas imfosit,mencegah bocornya plasma.

5. Pemeriksaan Penunjang
In vitro :
Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau miningkat. Pemeriksa IgE total(prist-paper immunosorbent test)sering kali menujjukkan nilai normal.pmeriksaan ini berguna untuk prediksi kemungkinan alergi pada bayi atau anak kecil dari suatu keluarga dengan derajad alergi yang tinggi.

In vivo :
Alergi penyebab dapat dicari dengan gejala pemeriksaan cukit kulit,ujin intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri(Skin End –Poin Titration / SET),SET dilakukan untuk allergen inhalan dengan menyuntikkan allergen dalam berbagai konsentrasi yang tingkat kepekatannya.
6. Etiologi
Alergen :
- Inhalen : debu rumah,debu kapuk,jamur,bulu hewan,dsb.
- Ingestan : buah ,susu,telur,ikan laut , kacang-kacangan dsb.


Pengkajian data :
Keluhan utama : Klien mengeluh sering pilek sejak berusia anak-anak.

Alasasn Masuk RS : Klien sering pilek sejak masih berusia anak-anak. Saat anamnesa klien mengatakan suka makan cokelat.

Riwayat penyakit sekarang : Klien mengeluh sering pilek sejak masih berusia anak-anak.

Riwayat penyakit keluaarga : sebelumnya tidak ada keluarga yang mengalami penyakit seperti klien sekarang.

Data focus : Mukosa hidung basah,berwarna pucat atau livid dengan konka edema dan sekret yang encer dan banyak.

NURSING CARE PLANE
NO DX Diagnosa tujuan intervensi rasional
1. Ketidak efektifan jalan nafas berhubungan dengan secret yang tertahan. Setelah dilakukan askep selama 1X24 jam klien mampu bernafas secara normal dengan indicator : tidak terdapat secret, RR normal (20x/menit)
1.jelaskan tindakan yang akan di lakukan
2.Mengkaji penumpukan secret yang ada
3.memberikan obat decongestan (pseudoefedrin 3x60 mg)
1.klien dan keluarga mengetahui tindakan yang akan di lakukan
2.mengetahui tingkat keparahan
3.untuk mengurangi sumbatan pada hidung agar nafas efektif
2 Nyeri akut berhubungan denga agen cidera fisik Setelah dilakukan askep selama 2x24 jam neyri yang di rasa klien berkurang denga indicator : nyeri berkurang (6 menjadi 1) 1.jelaskan tindakan yang akan dilakukan
2.beri kompres panas
3.ajarkan tehnik distraksi relaksasi
4.kolaborator pemberian obat analgesik 1.klien dan keluarga mengetahui tindakan yang akan dilakukan
2.nyeri yang dirasakan berkurang
3.mengalihkan pikiran klien
4.analgesik dapat mengurangi nyeri

0 komentar:

Poskan Komentar