Pages

Sabtu, 05 Februari 2011

muskuluskeletal

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN YANG MENGALAMI GANGGUAN SISTEM MUSKULUSKLELETAL


A. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM MUSKULUSKELETAL
Muskuluskeletal terdiri atas tulang, otot, kartilago, ligament, tendon, lasia, bursae, Dan persendian.
1. Komponen Sistem Muskuluskeletal.
a. Tulang
Tulang yang terdiri dari sel-sel yang berada pada ba intra – seluler
Fungsi dari tulang adalah sebagai berikut :
 Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh.
 Melindungi organ tubuh (missal jantung,otak,dan paru-paru)dan jaringan lunak.
 Memberikan pergerakan(otot yang berhubungan dengan kontraksi dan pergerakan).
 Membentuk sel-sel darah merah didalam sumsum tulang(hema topolesis).
 Menyimpan garam-garam mineral,misalnya kalsium,fospor.
Tulang dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok :
 Tulang panjang (femur,humerus)terdiri dari satu batang dan dua episis.
 Tulang pendek (carpals) bentuk tidak teratur.
 Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri atas dua lapisan tulang padat dengan lapisan luar adalah tulang cancellous.
 Tulang yang takberaturan (vertebrata) sama seperti dengan tulang pendek.
 Tulang sesamoid merupakan tulang kecilyang terletak didukung oleh tendon dan jaringan fasial, missal patella(kap lutut).
b. Otot
Otot dibagi dalam tiga kelompok, dengan fungsi utama untuk kontraksi dan menghasilkan pergerakan dari bagian tubuh atau seluruh tubuh.
 Otot rangka (otot lurik) : didapatkan pada system skeletal memperhatikan sikap dan menghasilkan panas.
 Otot visceral (otot polos ) : didapatkan pada saluran pencernaan, saluran perkemihan dan pembuluh darah.
 Otot jantung : didapatkan hanya pada jantung dan kontraksinya tidak dibawah keinginan.
 Otot rangka merupakan otot yang mempunyai variasi ukuran dan bentuk dari panjang dan tipis sampai yang lebar dan datar atau dapat berbentuk masa-masa yang besar sekali.
c. Kartilago
Kartilago terdiri-dari serat-serat yang dilekatkan pada suatu gelatin yang kuat. Kartilago sangat kuat fleksible dan tidak bervaskuler, Nutrisi mencapai kesel – sel kartilago dengan proses difusi melalui gelatin dari kapiler yang berada di perikondrium (fibros yang menutupi kartilago) atau sejumlah serat kolagen didapatkan pada kartilago, dimana typenya : fibrous, hyaline, atau elastic.
d. Ligament
Ligament adalah sekumpulan dari jaringan fibrous yang tebal dimana merupakan akhir dari suatu otot dan berfungsi mengikat suatu tulang.
e. Tendon
Tendon adalah suatu perpanjangan dari pembungkus fibrous yang membungkus setiap otot dan berkaitan dengan periousteum jaringan penyambung yang mengelilingi tendon tertentu, khususnya pada pergelangan tangan dan tumit.
f. Fasia
Fasia adalah suatu permukaan jaringan penyambung longgar yang di dapatkan langsung di bawah kulit sebagai fasia superfasial atau sebagai pembungkus tebal, jaringan penyambung fibrous yang membungkus otot, saraf dan pembuluh darah.
g. Bursae
Bursae adalah suatu kantong kecil dari penyambung disuatu tempat. Dimana digunakan diatas bagian yang bergerak.
h. Persendian
Pergerakan tidak akan mungkin terjadi bila kelenturan dalam rangka tulang tidak ada.
Menurut klasifikasinya terdapat 3 kelas utama persendian yaitu:
 Sendi synarthroses (sendi yang tidak bergerak).
 Sendi amphiarhroses (sendi yang sedikit pergerakannya)
 Sendi diarthroses (sendi yang banyak pergerakannya).


Adapun pergrakan yang dapat di lakukan oleh sendi-sendi adalah:
 Fleksi
 Ekstensi
 Adduksi
 Abduksi
 Rotasi
 Sirkumduksi
 Pergerakan khusus : supinasi pronasi, inversion, eversio, protacsio.
2. Perubahan Fisiologi pada proses menjadi tua
a. Adanya suatu penurunan yang umum pada tinggi badan sekitar 6-10 cm. Pada maturitas usia tua
b. Lebar bahu menurun
c. Fleksi terjadi pada lutut dan pangkal paha
d. Adanya penyempitan dari diskus intervertebralis yang menyebabkan berkurangnya ukuran dari intervertebra ruangan intercostal
e. Di bawah ini adalah hal yang terjadi :
1) Fraktur kompresi dari verbrata
2) Peningkatan kurve spina-thoraks
3) Kepala miring ke belakang dan leher pendek untuk mengimbangi kelainan kyphosis
4) Jengkal tangan lebih besar dari pada tingginya dengan demikian memberikan penampilan orang tersebut kurus
5) Jalan goyah dengan perubahan dalam otot dan fungsi motorik.
B. PENGKAJIAN UMUM SISTEM MUSKULOSKELETAL
Pengkajian perlu dilakukan secara sistematis teliti dan terarah. Kumpulkan data baik data subyektif maupun data obyektif dengan cara melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan lakukan hasil pemerikasaan fisik dengan cara inspeksi, palkusi dan auskultasi dilakukan dengan posisi duduk, berdiri, berjalan / bergerak.
1. RIWAYAT KEPERAWATAN
a. Data Biografi
Data pribadi dapat membantu untuk mengetahui klien secara individual sehingga memungkinkan untuk menyusun rencana perawatan yang tepat. Data ini meliputi antara lain nama,umur, jenis kelamin, tempat tinggal, jenis transportasi yang digunakan, orang – orang yang terdekat dengan klien.

b. Riwayat Keperawatan
Data ini menggambarkan sejauh mana tingkat perkembangan pada neonatus, bayi, pra sekolah,, usia sekolah, remaja, dewasa dan tua
c. Riwayat Sosial
Data ini meliputi antara lain pendidikan klien dan pekerjaannya.
d. Riwayat Kesehatan
Data ini meliputi kondisi kesehatan individu.
e. Riwayat Kesehatan Sekarang
Sejak kapan timbul keluhan, apakah ada riwayat trauma, hal – hal yang menimbulkan gejala. Timbulnya gejala mendadak atau perlahan serta timbul untuk pertama kalinya atau berulang.
Perlu ditanyakan pula tentang ada tidaknya gangguan pada sistem lainnya.
Masalah – masalah saat ini.
Kaji klien untuk mengungkapkan alasan klien memeriksakan diri / mengunjungi fasilitas kesehatan.
Keluhan utama pasien – pasien gangguan muskuloskeletal adalah :
- Sakit / nyeri
- Deformitas
- Kelainan fungsi.
Dalam mengkaji buatlah perbandingan antara sisi yang sakit dengan yang tidak (bilateral)
1) Nyeri
Identifikasi lokasinya. Nyeri biasanya berkaitan dengan pembuluh darah, sendi, fasia atau periosteum.
2) Kekuatan sendi
Tanyakan sendi mana yang mengalami kekakuan, lamanya, apakah selalu terjadi kekakuan. Pada penyakit – penyakit degenerasi sendi sering terjadi kekakuan yang meningkat pada pagi hari setelah bangun tidur (inaktifitas).
3) Bengkak
Penyakit – penyakit degenerasi sendi sering kali tidak timbul bengkak pada awal – awal serangan tetapi muncul setelah beberapa minggu setelah terjadi nyeri.
4) Demormitas dan Imorbilitas


5) Perubahan sensori
Penekanan pada syaraf dan pembuluh darah akibat bengkak, tumor atau fraktus dapat menyebabkan menurunnya sensori.
f) Keadaan tubuh lainnya
Pengkajian pada sistem tubuh yang lain kadang – kadang merupakan indikasi probem muskuloskeletal, sebagai contoh gejala – gejala kardiovaskuler seperti takhikardi dan hipertensi biasanya mendukung adanya gout / pirai, perubahan kulit misal keringnya kulit pada ibu jari tangan dan jari telunjuk dan tengah menandai adanya carpal tunnel syndrome.
g) Riwayat keluarga
Riwayat keluarga untuk menentukan hubungan genetik perlu di identifikasi misal adanya predisposisi seperti, artritis, spondilitas ankilosis, gout / pirai.
h) Riwayat diet
Identifikasi adanya kelebihan berat badan karena kondisi ini dapat mengakibatkan stress pada sendi – sendi penyangga tubuh dan predisposisi terjadinya instabilitas ligamen, khususnya pada punggung bagian bawah, kurangnya intake kalsium dapat menimbulkan fraktur karena adanya dekalsifikasi.
i) Aktifitas kegiatan sehari – hari
Idetifikasi pekerjaan pasien dan aktifitasnya sehari – hari. Kebiasaan membawa benda – benda berat yang dapat menimbulkan strain otot dan jenis – jenis trauma lainnya.
2. PEMERIKSAAN FISIK
Badingkan otot – otot dan sendi – sendi kanan dan kiri (bilateral) ukur gerak sendi/ROM dengan goniemeter.
Ukuran kekuatan otot dengan gradasi dan metode berikut :
0 (zero)
1 (Trace)
2 (Poor)

3 (Fair)



4 (Good)

5. (Normal)
:
:
:

:



:

:
Tidak ada kontraksi saat dipalpasi, paralis.
Terasa adanya kontraksi otot tetapi tidak ada gerakan.
Dengan bantuan/menyangga sendi dapat melakukan ROM secara penuh.
Dapat melakukan ROM secara penuh dengan melawan gravitasi tetapi tidak dapat melawan tahanan.


Dapat melakukan ROM secara penuh dan dapat melawan tahanan yang sedang.
Gerakan ROM penuh dengan melawan gravitasi dan tahanan.
Lakukan perkusi untuk mengetahui adanya cairan dalam rongga sendi. Lakukan anskultasi guna mengetahui adanya kelainan pada vaskuler dan krepitasi.
Uraian berikut ini memberikan gambaran tentang kelaian. Kelainan yang banyak terjadi pada masing – masing regio yan mengalami sakit.
Regio leher, kelaianan yang menyertai antara lain : servikal spondilitas, trauma, rematoid artritis, infeksi dan neoflasma.
Regio bahu, kelainan yang menyertai antara lain frozenshoulder trauma, calcifyng tendinitis, dislokasi sendi bahu, infeksi.
Regio siku, kelaianan yang terjadi antara lain : trauma, tennis, elbow, bursitis olekranon, pulled elbow, infeksi, mayositis ossificans.
Regio pergelangan tangan, kelainan yang banyak terjadi yaitu trauma ganglion, peradangan dan carpal tunnel syndrom.
Regio tangan, kelainan yang banyak terjadi adalah trauma, inflasi, tumor, penyakit degeneratif.
Regio tulang belakang, kelainan yang sering terjadi : skoliosis, Infeksi HNP (Hernie Nucleus Pulposus), metastase tumor, trauma, kelaianan kongenital, osteo artritis. Regio panggul, kelainan yang sering menyertai : congenital dislocation of hip, infeksi, slipped capital epiphysis, tansien synovitas, trauma.
Regio pergelangan kaki, kelaianan yang sering terjadi: trauma, inflamasi, ruptur tendon akimes.
Regio kaki kelainan yang sering timbul adalah : CTEV (Congenital talipes equino varus – pengkor), flat foot, hallux valgus inflamasi, plantas fasciitis.

3. PEMERIKSAAN PSIKOSOSIAL
Pasien dengan multiple fraktur yang harus imobilisasi lama dan pengobatan yang lama pula berisiko terjadi perubahan sensori. Deformitas akibat penyakit atau muskuloskeletal dapat menimbulkan perubahan “ body image “ dan konsep diri. Selain hal – hal diatas masih banyak masalah – masalah psikososial yang mungkin timbul pada pasien – pasien dengan masalah muskuloskeletal seperti cemas, ketakutan, merasa tak berdaya, terisolir dan lain – lain.

4. PROSEDUR DIAGNOSTIK/PEMERIKSAAN PENUNJANG
Adapun pemeriksaan – pemeriksaan penunjang yang digunakan adalah :
a. Laboratorium
Pada tabel menunjukkan test laboratorium yang umum digunakan untuk mengkaji klien dengan gangguan muskuloskeletal.
b. Pemeriksaan Radiologi/grafi
1. Rontgen
Rontgen diawali dengan posisi anteroposterior (AP). Posisi atau proyeksi lain yaitu lateral atau oblugue tergantung dari bagian skeletal mana yang akan dievaluasi.
2. Myelografi
Myelografi dilaksanakan dengan memasukkan zat kontras ke rongga subararachnoid pada spinal, biasanya melalui lumbal pungsi.
Untuk pemeriksaan ini pasien terlebih dahulu dipersiapkan yaitu malam sampai pagi sebelum pemeriksaan, perawat meningkatkan kebutuhan cairan secara oral atau intravena untuk mempertahankan hidrasi.
3. Computed
CT digunakan untuk mendeteksi masalah muskuloskeletal khususnya yang mengenai kolumna vertebralis.
c. Biopsi Tulang
Spisimen pada biopsi tulang diambil secara mikroskopik. Ada dua tehnik yang digunakan yaitu tertutup dengan menggunakan jarum dan terbuka yaitu dengan insisi.
d. Biopsi Otot
Biopsi otot dilakukan untuk mendiagnosa adanya atrofi (distrofi otot) dan peradangan (polimiositis). Prosedur biopsi otot sama dengan biopsi tulang.
e. Elektromiografi (EMG)
EMG biasanya dilakukan untuk menentukan potensi elektrik otot. EMG membantu untuk mendiagnosa adanya kerusakan neuromuskules, “ love motor neuron “. Dan syaraf – syaraf tepi.

f. Arthroscopy
Pemeriksaan ini menggunakan arthoroscope yang dimasukkan ke persendian dan dapat dilihat langsung kelaian yang nampak.
g. Magnetik resonance imaging (MRI)
Prosedur MRI merupakan interaksi antara bahan magnetik, gelombang radio, dan inti atom yang menggambarkan densitas hidrogen. Untuk beberapa jaringan dengan gambaran “ Cross Sectional” menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding radiografi atau CT : pemeriksaan ini khususnya digunakan untuk mengidentifikasi masalah – masalah pada otot, tendon dan ligemen.
h. Ultrasonografi
Untuk gangguan – gangguan muskuloskeletal USG digunakan untuk mendeteksi gangguan pada jaringan yang lunak seperti adanya masa dan akumulasi cairan.
Pemeriksaan ultrasound menggunakan sistem gelombang suara yang menghasilkan gambaran jaringan yang diperiksa.

5. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan yang umum terjadi pada gangguan sistem muskuloskeletal adalah sebagai berikut :
a. Gangguan mobilitas
b. Perubahan / gangguan rasa nyaman : nyeri
c. Perubahan eliminasi b.a.b : konstipasi
d. Potensial “ Injury”/cidera
e. Gangguan integritas kulit
f. Cemas
g. Tidak efektifnya “koping” individu
h. Takut
i. Kurang pengetahuan
j. Gangguan konsep dari “ body image “ (citra tubuh)
k. Kurang mampu memenuhi kebutuhan sehari – hari






C. PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Tindakan – tindakan dapat dilakukan secara simultan untuk mengatasi satu masalah. Beberapa tindakan keperawatan yang sering digunakan adalah :
1. Istirahat
Istirahat dapat dilakukan pada pasien yang mengalami trauma, reumatik atau nyeri yang sering menyertai gangguan muskuloskeletal.
2. Terapi fisik
Terapi fisik bertujuan untuk meningkatkan lingkup gerak sendi, range of montion, menurunkan nyeri bengkak, mengurangi spasme dan mencegah komplikasi inaktivitas. Adapun tindakan – tindakan yang diberikan dapat berupa :
a. Pemberian panas
b. Pemberian terapi dingin
c. Mesase

D. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana pencepaian tujuan keperawatan dapat tercapai dengan melihat adanya peningkatan status kesehatan klien berupa peningkatan aktivitas, terpenuhinya kebutuhan rasa nyaman dengan berkuragnya nyeri, meningkatnya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari tanpa banyak bantuan, tidak terjadi injury, kecemasan berkurang, harga diri meningkat dan hal – hal lain yang mengarah pada kondisi perbaikan pada pasien maupun keluarga.

0 komentar:

Poskan Komentar